Ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia memadati Zoom Meeting dalam agenda PMB Talk & Bedah Buku yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir, Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) sekaligus forum intelektual yang mempertemukan civitas akademika, alumni, dan masyarakat luas.
Mengusung tema “Saatnya Kuliah di Kampus Terbaik”, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ketua STID Mohammad Natsir Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I dan Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Dr. Adian Husaini, M.Si.. Antusiasme peserta terlihat sejak awal acara, dengan jumlah partisipan daring yang terus meningkat hingga memenuhi ruang Zoom Meeting.
Dalam pemaparannya, Dr. Dwi Budiman Assiroji menegaskan bahwa kaderisasi da’i masih sangat diperlukan, mengingat masih banyak daerah di Indonesia yang membutuhkan kehadiran da’i untuk memperkuat dakwah dan pembinaan umat.
“Kaderisasi da’i masih sangat diperlukan karena masih banyak daerah yang sangat membutuhkan kehadiran da’i. Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini kami mengajak kita semua, terutama para alumni yang hadir, para direktur ADI, serta pengurus Dewan Da’wah Daerah, untuk mengirimkan kader-kader terbaiknya kuliah di STID Mohammad Natsir. Insya Allah, mereka akan kami kader selama empat tahun, lalu kami kembalikan ke daerah masing-masing untuk memperkuat dakwah di seluruh titik di Indonesia,” ujar Dr. Dwi Budiman.
Ia juga menjelaskan bahwa STID Mohammad Natsir tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi memiliki sistem pendidikan terpadu yang berorientasi pada pembinaan karakter, keilmuan, dan kesiapan terjun langsung ke medan dakwah.
Sementara itu, Dr. Adian Husaini dalam sesi bedah buku “STID Mohammad Natsir: Model Perguruan Tinggi Ideal Pusat Kaderisasi Da’i dan Pemimpin Bangsa” menegaskan bahwa konsep pendidikan yang dijalankan STID Mohammad Natsir selama puluhan tahun justru menunjukkan model perguruan tinggi Islam yang ideal dan layak dijadikan rujukan nasional.
“Konsep pendidikan STID Mohammad Natsir yang sudah puluhan tahun dijalankan ini justru kampus seperti inilah yang saya katakan harus menjadi model nasional. Mengapa saya berani menyatakan bahwa STID Mohammad Natsir adalah model perguruan tinggi ideal, pusat kaderisasi da’i dan pemimpin bangsa? Karena ini sudah terbukti dan sudah terlaksana,” tegas Dr. Adian.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan STID Mohammad Natsir dapat dilihat dari kiprah para alumninya yang telah berkontribusi nyata di berbagai medan dakwah dan kepemimpinan umat.
“Alumni-alumni STID yang jumlahnya sekarang sudah ribuan telah menunjukkan kiprah yang nyata. Bahkan jika kita runut sebelum STID formal, dari LPDI, para alumninya pun sudah luar biasa. Salah satunya adalah Dr. Jeje Zainuddin yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PERSIS. Beliau merupakan alumni LPDI, lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi STID Mohammad Natsir,” jelasnya.
Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini juga diisi dengan penyampaian testimoni dari dua alumni STID Mohammad Natsir yang membagikan pengalaman mereka selama menjalani proses pendidikan dan kaderisasi. Para alumni tersebut menyampaikan bagaimana pembinaan keilmuan, karakter, dan dakwah di STID Mohammad Natsir telah membekali mereka untuk terjun langsung ke tengah masyarakat serta berkhidmat di berbagai daerah.
Melalui kegiatan PMB Talk & Bedah Buku ini, STID Mohammad Natsir berharap semakin banyak generasi muda dan lembaga dakwah di berbagai daerah yang bersinergi dalam menyiapkan kader-kader terbaik, guna memperkuat dakwah Islam dan melahirkan pemimpin bangsa yang berintegritas di seluruh penjuru Indonesia. (Humas STID Mohammad Natsir)

