Oleh: Dadang Taupik
Mahasiswa Kelas Jurnalistik Dakwah STID Mohammad Natsir
Dalam pembahasan mengenai Indonesia Emas 2045, prospek dan tantangan selalu hadir bersamaan. Di satu sisi terdapat optimisme—yakni keyakinan bahwa visi besar ini dapat diwujudkan melalui kerja keras dan strategi yang tepat. Namun di sisi lain, realitas saat ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bangsa.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Indonesia Emas 2045?
Istilah ini merujuk pada cita-cita nasional ketika Indonesia genap berusia seratus tahun sejak proklamasi kemerdekaan. Pemerintah menggambarkannya sebagai visi menuju negara maju yang berdaulat, adil, dan makmur.
Dalam dokumen resmi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, Indonesia Emas ditargetkan mampu masuk lima besar ekonomi dunia, memiliki sumber daya manusia unggul berdaya saing global, memperkokoh demokrasi yang matang, serta menegakkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan kata lain, tahun 2045 diharapkan menjadi puncak transformasi Indonesia, bukan sekadar peringatan seratus tahun kemerdekaan.
Pertanyaannya, apakah visi tersebut sekadar retorika atau peluang nyata yang benar-benar bisa diwujudkan?
Sebagian pihak menunjukkan sikap skeptis. Mereka menyoroti berbagai persoalan yang masih membelit Indonesia saat ini: angka kemiskinan yang masih mencapai 9,36 persen atau sekitar 25 juta jiwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, tingkat korupsi yang masih tinggi sebagaimana dilaporkan oleh Transparansi Internasional yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-115 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi 2023, hingga kualitas pendidikan yang belum merata.
Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. Bagi kelompok pesimis, fakta-fakta ini menjadi sinyal bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 penuh rintangan berat.
Namun di sisi lain, optimisme juga memiliki dasar yang kuat. Berdasarkan prediksi BPS, Indonesia akan mengalami bonus demografi pada kurun 2030–2040. Artinya, pada periode tersebut, penduduk usia produktif (15–64 tahun) akan mendominasi hingga 64 persen dari total penduduk yang diproyeksikan mencapai 297 juta jiwa. Kondisi ini merupakan keuntungan besar bagi Indonesia untuk menjadi negara dengan produktivitas tinggi.
Jika momentum ini dapat dikelola dengan tepat, produktivitas Indonesia bahkan bisa melampaui negara maju seperti Jepang, yang pada masa depan akan didominasi oleh penduduk usia lanjut. Dengan demikian, kesempatan emas sejatinya sudah berada di depan mata.
Fakta ekonomi global juga memberi harapan. PricewaterhouseCoopers (PwC) memproyeksikan Indonesia dapat masuk lima besar ekonomi dunia pada 2045 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan mencapai 10,5 triliun dolar AS. Saat ini, Indonesia telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan menempati peringkat ke-16 dunia menurut Bank Dunia.
Pertumbuhan sektor digital turut memperkuat optimisme. Laporan e-Conomy Southeast Asia yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menyebutkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia mencapai 82 miliar dolar pada 2023, dan berpotensi menembus 200 miliar dolar pada 2030. Fakta ini menunjukkan kapasitas generasi muda Indonesia untuk bersaing di ranah teknologi global.
Potensi sumber daya alam juga menambah optimisme tersebut. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang merupakan komponen vital dalam industri baterai kendaraan listrik. Posisi ini menempatkan Indonesia pada jalur strategis dalam transisi energi dunia. Dengan kekayaan laut, tanah yang subur, serta letak geografis yang strategis, Indonesia memiliki modal alamiah yang melimpah untuk menopang lompatan pembangunan.
Meski begitu, sejumlah hambatan tetap perlu diwaspadai. Kerusakan lingkungan, ketimpangan kesejahteraan, serta lemahnya tata kelola pemerintahan bisa menjadi batu sandungan serius. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat sekitar 650 ribu hektar hutan hilang setiap tahun. Jika hal ini terus berlanjut, pembangunan ekonomi yang tidak ramah lingkungan justru akan menjadi bumerang di masa depan.
Di tengah tarik-menarik antara pesimisme dan optimisme, visi Indonesia Emas 2045 menjadi arena diskusi yang selalu hangat. Kaum pesimis melihat data kemiskinan, korupsi, dan pendidikan sebagai alarm keras, sementara kaum optimis justru menilai proyeksi ekonomi, kekuatan demografi, dan kemajuan teknologi sebagai alasan kuat untuk percaya.
Saya pribadi memilih berdiri di pihak optimis. Dengan reformasi pendidikan yang lebih serius, tata kelola pemerintahan yang transparan, serta pemanfaatan teknologi dan sumber daya alam yang bijak, cita-cita Indonesia Emas bukanlah hal mustahil.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan periode 2019–2024, Muhadjir Effendy, pernah menyampaikan pesan kepada generasi muda:
“Indonesia Emas itu adalah milik kalian. Pada saat itu, usia kalian sudah matang dan siap memimpin. Jadi, siapkan diri dari sekarang.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah tahun 2045 benar-benar akan menjadi era Indonesia Emas akan terus memunculkan perdebatan. Namun justru di situlah daya tariknya. Perdebatan itu mendorong bangsa ini untuk terus berpikir, bekerja, dan berbenah.
Dengan persatuan, kerja keras, dan keberanian untuk berubah, kita bisa berharap bahwa pada seratus tahun Indonesia merdeka, bangsa ini menyambut era baru dengan penuh kebanggaan sebagai Bangsa Emas.
Namun, pertanyaan kuncinya tetap relevan untuk kita renungkan bersama:
Apakah Indonesia 2045 benar-benar akan menjadi Indonesia Emas? Jawabannya ada di tangan kita semua.

